Kartini di Era TikTok: Literasi dan Personal Branding Mahasiswa Dakwah

Home >Berita >Kartini di Era TikTok: Literasi dan Personal Branding Mahasiswa Dakwah
Diposting : Selasa, 21 Apr 2026, 12:32:21 | Dilihat : 163 kali
Kartini di Era TikTok: Literasi dan Personal Branding Mahasiswa Dakwah


JEMBER, MEDICEN FADA — Peringatan Hari Kartini tidak lagi cukup dimaknai sebagai seremoni simbolik. Di tengah arus digital yang kian masif, pemikiran Raden Ajeng Kartini justru menuntut pembacaan ulang yang lebih kontekstual terutama di kalangan mahasiswa yang hidup berdampingan dengan budaya media sosial.

Hari ini, perempuan Gen Z menjadikan TikTok dan Instagram sebagai ruang utama untuk mengekspresikan diri. Personal branding menjadi bagian dari keseharian: bagaimana tampil, berbicara, hingga membangun citra diri di ruang publik digital. Dalam batas tertentu, ini mencerminkan semangat emansipasi perempuan yang memiliki ruang untuk bersuara tanpa sekat yang dulu membatasi.

Namun, kebebasan ini tidak sepenuhnya tanpa sebuah risiko. Standar kecantikan yang seragam, tuntutan tampil sempurna, hingga kebutuhan akan validasi sosial menjadikan media digital sebagai ruang yang sekaligus menekan. Perempuan tidak hanya berbicara, tetapi juga dituntut untuk “sesuai” dengan ekspektasi yang dibentuk algoritma dan tren.

Di tengah realitas tersebut, dinamika berbeda justru tampak di lingkungan UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember, khususnya di Fakultas Dakwah. Meskipun mahasiswa tidak terlepas dari penggunaan media sosial, tradisi membaca dan diskusi masih menjadi bagian penting dalam kehidupan akademik mereka.

Mahasiswa Fakultas Dakwah tidak hanya mengonsumsi konten, tetapi juga berupaya membangun kesadaran kritis melalui literasi. Dengan membaca buku dan forum diskusi yang menjadikan ruang alternatif untuk memperdalam pemahaman sesuatu yang tidak selalu ditemukan dalam konten digital yang dinamis dan instan.

Nurfadila, mahasiswa Fakultas Dakwah, melihat fenomena ini sebagai tantangan sekaligus peluang. “TikTok itu tidak salah, bahkan bisa jadi media dakwah dan edukasi. Tapi kalau kita hanya bergantung pada itu, kita akan kehilangan kedalaman berpikir. Makanya, membaca dan diskusi tetap penting supaya kita tidak mudah terbawa arus,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa tidak menolak perkembangan zaman, tetapi berusaha menempatkannya secara proporsional. Media sosial dimanfaatkan sebagai alat instrumen, bukan sebagai satu-satunya sumber kebenaran faktual.

Sikap ini sejatinya merefleksikan kembali semangat Kartini. Jika pada masanya Kartini memperjuangkan akses pendidikan dan kebebasan berpikir melalui tulisan, maka hari ini perjuangan itu bertransformasi menjadi upaya menjaga literasi di tengah budaya instan. Kartini tidak hanya mengajarkan keberanian bersuara, tetapi juga pentingnya berpikir secara mendalam dan kritis.

 

Dengan demikian, peringatan Hari Kartini yang jatuh setiap 21 April di lingkungan kampus khususnya di Fakultas Dakwah UIN KHAS Jember perlu diarahkan pada penguatan nilai-nilai literasi dan kesadaran kritis. Mahasiswa tidak cukup hanya tampil aktif di media sosial, tetapi juga harus mampu membangun argumen, memahami realitas sosial, dan menyuarakan kebenaran berbasis pengetahuan.

Di era TikTok, emansipasi tidak lagi sekadar tentang kebebasan untuk tampil, tetapi juga tentang kemampuan untuk berpikir, membaca, dan mempertahankan nilai kebenaran. Dalam konteks inilah, semangat Kartini tetap hidup bukan hanya di layar digital, tetapi juga dalam tradisi intelektual yang terus dijaga.

 

Penulis & foto : Rizky Hidayatullah

Editor: Abdul Choliq, Firdaus Dwi C, Nuzul Ahadiyanto

Berita Terbaru

Mahasantri Internasional UIN KHAS Bacakan Deklarasi Perdamaian untuk Palestina
08 Jun 2026By dakwah
Antusiasme Tinggi, 1.332 Peserta Ikuti UM-PTKIN di UIN KHAS Jember
08 Jun 2026By dakwah
UIN KHAS Jember Siapkan Beasiswa untuk Pemain Persid
28 May 2026By dakwah

Agenda

Informasi Terbaru

Belum ada Informasi Terbaru

Lowongan

;